Indonesians abroad

Video “Study in Holland” menang juara pertama!

August 23, 2009
Leave a Comment

Video mini tentang profil 7 mahasiswa mahasiswi Indonesia di Belanda ini akhirnya menang sebagai juara pertama di Kompetisi Foto dan Video NESO-IKANED yang diselenggarakan bulan Agustus lalu. Dengan durasi 5 menit, pemirsa dijejali dengan sekilas informasi yang singkat dan padat mulai dari impresi pertama saat sampai di Belanda, berkumpul dengan kawan-kawan Indonesia hingga mengadakan kegiatan Indonesian Dinner untuk memperkenalkan budaya dan kuliner Indonesia kepada kawan-kawan Internasional.

Melibas 17 video lainnya yang dikirim oleh 8 pelajar Indonesia di Belanda, video ini bernuansa hijau dan oranye. Hijau sebagai warna kota Groningen, dimana proses produksi video ini dilaksanakan dan tempat studi para narasumber ; serta Oranye sebagai warna nasional negara Belanda.

Dalam segi konsep, video ini menitikberatkan pada sequence perjalanan pelajar Indonesia di Belanda. Diawali dengan klip pertama yang dibawakan oleh Dewi Shinta, ia menceritakan impresi pertamanya saat sampai di Belanda. Kemudian dilanjutkan oleh Gietty Tambunan yang memberikan gambaran tentang mudahnya menemukan kawan-kawan dari satu tanah air di negeri ini. Transisi dari Dewi Shinta ke Gietty Tambunan digambarkan dalam perjalanan menaiki sepeda, salah satu moda transportasi paling umum di Belanda.

Lalu sang ketua PPIG saat itu juga ikut memberikan kilasan tentang organisasi pelajar Indonesia di Belanda serta keuntungan dalam ikut aktif berorganisasi. Apabila pemirsa teliti, kaos yang dikenakan tertulis nama pertama narasumber PhD student ini. Klip kemudian menanmpilkan sosok Yunia Sribudiani yang bercerita tentang kesempatannya untuk ikut berdiskusi di sela-sela kesibukan penelitiannya. Transisi dari Kenzi ke Yunia memang memfokuskan papan ketik , salah satu item yang tak mungkin terlewatkan oleh para mahasiswa/i di Belanda.

Ketika Yunia melempar bola kertas, alih-alih bola itu kemudian membalik dan menjadi bola basket yang diterima Hafiz Lufty. Mahasiswa S2 yang cukup aktif dalam kegiatan olahraga ini memberikan kilasan tentang kegiatan Groens Cup 2009, ajang olahraga untuk seluruh mahasiswa/i Indonesia di seluruh pelosok Belanda. Acara ini diadakan setahun sekali dan eksklusif diselenggarakan oleh PPI Groningen.

Narasumber kedua terakhir adalah Kristano Reinhart, atau disapa sebagai Randy. Sangat akrab dengan kawan-kawan berbeda negara di kampusnya, ia turut aktif memperkenalkan budaya dan kuliner Indonesia dalam kegiatan Indonesian Dinner. Acara yang disambut meriah oleh bule-bule kelaparan ini selalu diselenggarakn tiap tahun bekerja sama dengan ESN. Sebagai narasumber terakhir, kita akan menemui Christina Avanti, seorang supermom yang menekuni studi S3nya di UMCG dan juga masih menyempatkan waktu untuk mengurus anaknya yang dibawa ke negeri keju ini. Yang membuat unik dari narasumber terakhir adalah ketekadannya untuk membawa anak beliau dan meninggalkan suami di tanah air.

Keseluruhan profil tersebut kemudian membawa clipboard yang menyatakan perasaan mereka selama tinggal di Belanda. Mulai dari “Serasa naik rollercoaster” yang menggambarkan emosi dan situasi saat tinggal di Belanda, ” Salah satu cara untuk jalan-jalan di Eropa” yang diangguki oleh kebanyakan pelajar di Eropa Barat ini, serta “Feels like home” yang menggambarkan eratnya tali persaudaraan di antara kawan-kawan Indonesia di negara klompen ini.

Dengan konsep yang benar-benar matang serta proses penyuntingan yang lebih teliti daripada video-video selanjutnya, kami berharap film ini berhasil memberikan gambaran singkat tentang…

ngapain aja sih para pelajar Indonesia di Belanda.


Posted in project
Tags: ,

Norrköping

June 30, 2009
Leave a Comment

Perjalanan menuju Norrköping berjalan dengan lancar. IndAb berangkat dari stasiun Västerås, Senin siang dengan menggunakan SJ train menuju Norrköping Centralen. Perjalanan selama 1.5 jam diisi dengan menulis journal perjalanan di Swedia dan ditemani dengan alunan musik pop Darren Hayes dan Dido. Riakan air danau dan hijau pepohonan di berbagai hutan yang dilintasi menambah sejuknya perjalanan yang cukup panas ini.

IndAb sampai di Norrköping Centralen pukul xx.xx dan langsung mengambil bis menuju centrum Norrköping.

“Udah nyampe central?”, Reza langsung menyapa IndAb melalui sms tepat setelah keluar dari centralen. Dia juga menyebutkan nomor bis dan tujuan serta halte tujuan, sayang IndAb sudah berada di dalam bus saat selesai membaca sms Reza. Kepikiran kalau Reza bakal datang telat, IndAb mau berjalan-jalan sekaligus melihat suasana centrum di Norrköping.

Setengah jam kemudian, kami bertemu di salah satu halte di daerah Centrum dan langsung diajak santap malam di Kebab langganan di dekat kampus. Walaupun harga pizza bisa terbilang lumayan mahal, tapi kuantitas pizza sangat mengenyangkan perut. Perjalanan pun dilanjutkan menuju student house Reza yang terletak 10 menit jalan dari Centrum.

Hari kedua dimulai dengan cukup terlambat, kami mulai bertolak dari student house menuju kampus Linköping University di dekat rumah. Pengambilan gambar interview diambil di salah satu ruangan belajar yang sepi saat itu. “Saat ini memang lagi summer vacation “, ujar Reza sambil menunjukkan beberapa ruangan yang nyaman dan menarik untuk dikunjungi.

Beberapa shot diambil di perpustakaan, lift, toilet, ruangan dan berbagai fasilitas publik yang memanjakan kaum difabel. Beruntung saat itu kampus sepi sehingga kami tidak repot untuk mengambil gambar suasana kampus. Sempat juga IndAb bertemu dengan kawan-kawan Indonesia lain di luar kampus, dimana mereka sedang berdiskusi tentang ujian yang akan diambil beberapa hari kedepan. Lucunya, salah satu mereka adalah teman SMA salah satu kawan IndAb yang di Groningen. Dunia memang kecil atau pergaulan mereka memang luas?

Kami berhenti di salah satu pusat perbelanjaan di centrum dan menikmati kebab ayam yang konon tersohor di kalangan masyarakat Swedia dan mahasiswa Indo di Norrköping. Kebetulan lokasi tempat makan siang berdampingan dengan fasilitas kaum difabel di pusat perbelanjaan tersebut. Tak jarang kami melihat beberapa keluarga yang membawa dorongan bayi dan seorang difabel dengan kursi roda yang memanfaatkan fasilitas lift ataupun tramp yang disediakan oleh pihak manajemen.

Malam harinya kami kembali ke student house dan menikmati dinner dengan beberapa orang Indo yang sempat IndAb ketemu di luar kampus siang tadi. Dengan jamuan spaghetti, perut cukup terisi untuk menikmati malam terakhir di Norrköping. Kami pun sempat bercengkerama tentang kegiatan orang-orang Indonesia di Norrköping.

Hari ketiga, IndAb harus kembali bertolak ke Västerås. Sebelum pergi, IndAb telah menggandakan beberapa dokumentasi foto dan video tentang Summer Gathering di Norrköping pekan silam untuk kemudian masuk ke dalam sub topik di video Norrköping ini. Video akan diunggah di website summer ini.

Tack så mycket och hejdå, Reza!


Posted in project
Tags: ,

Norrköping: Kesetaraan bagi masyarakat difabel

June 18, 2009
Leave a Comment

Sebagai video perdana, IndAb bakal menangkap kegiatan kawan-kawan di Swedia tepatnya di kota Norrköping. Kita akan bertemu dengan Reza Prisman yang akan membeberkan tentang kesetaraan bagi kaum difabel dalam segi fasilitas publik. Dia akan menceritakan bagaimana pemerintah Swedia menyediakan fasilitas memadai baik di transportasi dan begitu pula dengan universitas yang menyediakan akses mudah bagi kaum difabel.

Tak hanya itu pula, sistem transportasi di Swedia dan kegiatan yang baru saja dilaksanakan di Norrköping, Summer Gathering 2009 akan kami angkat sebagai tema sampingan di video perdana ini.

Pengambilan gambar akan dilakukan pada hari Senin sampai Rabu siang di Norrköping.


Posted in project
Tags: ,

IndonesiansAbroad : awal mula

April 26, 2009
Leave a Comment

Hej kawan,

IndonesiansAbroad adalah project perdana seorang Titö W Edysson tentang kehidupan sehari-hari kawan-kawan Indonesia di perantauan. Film dokumenter ini akan bergelut dengan satu pertanyaan utama yang sering terlintas di kawan-kawan yang ada di Indonesia, ” ngapain aja sih orang-orang Indonesia itu di luar negeri? ”

Tak jarang pertanyaan tersebut dijawab secara negatif oleh beberapa kawan, namun tak jarang pula pendapat positif dilemparkan kepada kawan-kawan Indonesia yang sedang berada dalam perantauan.

Setiap edisi kami akan menampilkan satu narasumber utama yang akan menceritakan secuil kehidupan mereka di negara asing. Suka dan duka mereka berhadapan dengan para bule yang terkadang susah ditebak. Bagaimana mereka mencoba mengargumentasikan pendapat mereka dengan bahasa yang bukan bahasa ibu mereka.

Proyek ini masih dalam tahap prematur. InshaAllah, dalam bulan Mei kami akan memulai dengan pilot project kami dengan beberapa narasumber di Utrecht, Belanda. Setelah itu, untuk bulan-bulan kedepan kami akan merekam kehidupan kawan-kawan di Swedia dan di Jerman.

Tiada yang kami nantikan selain doa restu dan apresiasi kawan-kawan dari proyek sederhana ini. Harapan kami, semoga kalian bisa menikmati dan menghargai hasil kolaborasi karya anak-anak Indonesia.

Salam.

Titö


Posted in Awal Mula

About author

a random person with scrambled thoughts

Search

Navigation

Categories:

Links:

Archives:

Feeds